Jumat, 03 Agustus 2012

Dance with my Father

if I could get, another chance, another walk, another dan with him..

sepenggal bait dalam sebuah lagu, terkadang memberikan makna tersendiri bagi kita. tak jarang orang akan merasa memiliki setiap bait yang mengambarkan akan dirinya, seperti berkaca dan memutar film di dalam otak. kembali membuka memori yang pernah terurai, tak peduli seberapa sakit dan bahagianya melewati moment-moment tersebut. sosok seorang ayah, kita ini tidak ada tanpa figur seorang ayah, seberapa benci atau sayangnya kita pada sosok yang Tuhan izinkan untuk membesarkan kita inilah kita mengerti apa itu hidup, apa rasanya memiliki orangtua, saudara, teman dll. ayah tak pernah lepas dari setiap jejak langkah dalam hidup kita. ayah lah yang menunggu dengan cemasnya saat ibu tengah berjuang untuk melahirkan kita kedunia ini. ayah adalah orang yang mampu memberikan senyum terbaiknya ketika pertama kali mata kita bertemu dengan matanya. sosok yang bahkan ketika kita masih dalam hitungan minggu berada dalam perut ibu, yang paling bahagia, bahkan kadang tidak sabar menunggu lahirnya kita ke dunia ini. pernahkah terfikirkan oleh kita, bahwa ayah telah memanjakan kita bahkan ketika kita masih dalam kandungan ibu? ketika ibu sedang menginginkan sesuatu yang sering disebut dengan "ngidam" ayah dengan bersemangat berusaha untuk memenuhi semua keinginan ibu, tak perduli seberapa larut malam kah atau sesubuh apapun ayah lah orang yang akan dengan sigap mencari kemanapun keinginan ibu, mulai dari makanan, mainan, bahkan hal yang tak masuk akal pun berusaha untuk ayah penuhi. sekarang kita telah tumbuh dewasa, seiring berjalan nya waktu, kita telah melewati fase dimana ayah akan sangat baik bahkan sangat jahat di mata kita. mulai dari memberikan apapun keinginan kita hingga memberlakukan jam malam bagi anak gadisnya. ayah adalah orang yang pertama kali terlintas dalam otak kita ketika ibu mulai memarahi kita, sosok yang mampu meredam kemarahan ibu, dan membela kita habis-habisan supaya ibu tidak terus menerus mengungkit setiap kesalahan kita. kini, ayah telah dibebastugaskan oleh Tuhan untuk mendidik dan membimbingku. tanpa terasa sudah masuk tahun ketujuh ayah menikmati jerih lelah nya mendidik ku di surga sana. ya, aku masih sering berselisih pendapat dengan ibu, ibu pun masih suka memarahi ku, tapi kondisi sekarang sangat terasa berbeda, karena tak ada lagi sosok ayah yang mampu menjadi energi positif dan membelaku, tapi aku tetap bersyukur, karena ayah akan tetap menjadi satu-satunya orang yang menjadi motivasi ku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aku tidak akan kalah dengan keadaan bahkan teman sebaya yang hingga kini memiliki ayah di tengah-tengah keluarga nya. aku bisa membuktikan sekalipun aku tidak dapat lagi merasakan raga ayah di tengah dunia, tapi dia tetap membimbingku disini, dalam hati. terimakasih ayah, tanpamu aku semu.